Palembang, radar91.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Kementerian Pertanian RI menggelar Gebyar Perbenihan Tanaman Pangan Nasional ke-X Tahun 2025 yang berlangsung di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sabtu (13/9/2025).
Acara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr. Yudi Sastro, S.P., M.P., yang hadir mewakili Menteri Pertanian. Pembukaan berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan mulai dari tarian tradisional Gending Sriwijaya, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, hingga penayangan video kiprah Gubernur Sumsel di bidang pertanian.
Kegiatan juga diwarnai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Sumsel dengan produsen benih, yang disaksikan langsung oleh perwakilan Kementerian Pertanian. Usai pembukaan, rombongan meninjau area display, melaksanakan panen perdana padi apung, hingga meninjau varietas padi sawah, palawija, serta produk UMKM.
Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Kapolda Sumsel Irjen Pol. Andi Rian R. Djajadi, S.I.K., M.H., Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A., Gubernur Sumsel H. Herman Deru, Anggota DPR RI Hj. Kartika Sandra Desi, S.H., M.M., serta jajaran pejabat Polda Sumsel, TNI, dan kepala daerah se-Sumatera Selatan.
Dengan mengusung tema “Mandiri Benih Sumsel, Pertanian Tangguh dan Inovatif Mewujudkan Swasembada Pangan”, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian benih lokal, meningkatkan inovasi di sektor pertanian, serta mendorong ketahanan pangan nasional.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya SIK MH mengatakan benih yang dibutuhkan untuk petani di Sumsel kurang lebih sebanyak 27.000 ton. Akan tetapi, jumlah benih yang bisa dipenuhi baru sekitar 8.000 ton.
“Belum mampu kita (Sumsel) menyuplai benih-benih unggul untuk petani kita sendiri, dengan LBS (lahan baku sawah) 519.000 hektare padi plus penambahan cetak sawah baru 48.000. Belum mampu, sesuai data yang kita dapat dari pemerintah Provinsi Sumsel” ujarnya.
Dia mengatakan benih memang terlihat seperti hal yang sederhana. Petani bisa mendapatkan dengan cara mendeder (menyemai) dari panen sebelumnya atau dengan cara lain. Namun, cara itu dipandang tidak memberikan jaminan terhadap mutu dan kualitas dari produk tanaman yang akan diproduksi, karena tidak terukur dan memiliki sertifikat.
“Tidak ada yang bisa menjamin produk ini bisa menghasilkan produk yang lebih besar kalau dia (benih) tidak dibuat oleh para ahli,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Yudi Sastro mengungkapkan bahwa benih menjadi salah satu komponen penting dalam mewujudkan swasembada pangan. Penggunaan benih yang tidak tepat dapat menyebabkan hasil panen yang kurang optimal.
“Sehingga harus dipastikan benih itu cukup, datang tepat waktu, kualitas baik dalam hal ini unggul dan bersertifikat,” ujarnya.
Yudi mengungkapkan, dari total kebutuhan benih padi yang mencapai 370.000 ton, baru sekitar 50% yang terpenuhi. Sementara untuk sisanya masih menggunakan benih hasil sendiri yang tidak bisa dipastikan keunggulannya.
“Sehingga diharapkan kegiatan ini [Gebyar Perbenihan] bisa memberikan solusi terkait dengan masalah perbenihan di Tanah Air,” tutupnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar hingga selesai.
(Red/Rezha LDD)



Tinggalkan Balasan