Jakarta, radar91.com – Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan komitmen Polri untuk terus berbenah melalui reformasi berkelanjutan yang berfokus pada peningkatan profesionalisme, perbaikan pelayanan publik, dan penegakan hukum yang berkeadilan, demi membangun kepercayaan masyarakat.
“Reformasi Polri ini berjalan secara terus menerus hingga hari ini dengan Bapak Kapolri terus berbenah,” ungkap Komjen Pol Dedi saat rapat bersama Komisi III DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Komjen Pol. Dedi menyatakan bahwa Kapolri Jenderal Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo M.Si., telah menginstruksikan empat reformasi fundamental di tubuh Polri, yang meliputi aspek organisasi, operasional, pengawasan, dan pelayanan publik.
“Hal ini akan terus menjadi catatan penting bagi kami untuk melakukan perbaikan-perbaikan, termasuk dalam reformasi struktural yang masih menjadi pekerjaan rumah. Masukan dan kritikan dari masyarakat hari ini semakin menegaskan urgensi reformasi di bidang kultural.” ujar Wakapolri.
Lebih lanjut, Komjen Pol. Dedi menyatakan bahwa peristiwa demonstrasi yang berujung ricuh pada Agustus 2025 memicu dilakukannya reformasi Polri. Menurut Wakapolri, dalam kerusuhan tersebut, pengemudi ojek daring (ojol) bernama Affan Kurniawan turut menjadi korban meninggal dunia.
“Peristiwa pada bulan Agustus, khususnya kejadian tanggal 25-28 dan meninggalnya Saudara Affan di tanggal 28, menjadi pemicu utama (trigger) reformasi Polri digaungkan. Kejadian tersebut memicu unjuk rasa di 20 provinsi dan 48 kota,” ujarnya.
Menurutnya, kerusuhan pada Agustus 2025 berbeda dengan kerusuhan pada Mei 2019. Saat itu, kerusuhan Mei 2019 hanya terfokus di Jakarta.
“Kejadian ini terjadi di 20 polda dan 48 kabupaten/kota dalam waktu yang hampir bersamaan sehingga kekuatan kami sudah kami kalkulasi, butuh kekuatan-kekuatan yang lebih untuk menangani hal tersebut,” ujarnya.
Komjen Pol. Dedi mengatakan Kapolri telah memberikan arahan untuk segera mengendalikan situasi. Akhirnya situasi dapat terkendali dalam waktu tidak terlalu lama.
“Dari data yang ada, jumlah korban cukup banyak, dari anggota Polri juga ada 600 lebih, masyarakat 600 lebih, juga ada korban meninggal dunia, dan kerugian materiil cukup banyak yang dialami, baik kerusakan fasilitas publik maupun kerusakan kantor kepolisian,” tuturnya.
(Red/Rezha LDD)



Tinggalkan Balasan