Jakarta, -5 Januari 2026- Sejarah tidak mati. Ia hanya berganti wajah dan medan tempur. Dari laras senjata hingga meja hukum, dari operasi militer hingga pertarungan opini publik.

Nama Andrias Ade, polisi asal Timur, tercatat kuat dalam sejarah keamanan nasional. Pada tahun 1968, ia dipercaya langsung memimpin grup tembak dari Timur untuk membasmi pemberontakan di Kalimantan dan Sulawesi. Kepercayaan itu datang dari orang nomor satu di Korps Bhayangkara saat itu, Kapolri kedua RI, Jenderal Polisi Soekarno Djojohadinegoro.

Andrias Ade bukan polisi biasa. Ia adalah figur lapangan, keras, dan loyal pada negara. Namanya disegani, bahkan ditakuti, hingga ke pelosok Nusantara.

Puluhan tahun kemudian, publik kembali menyaksikan “kebangkitan” karakter serupa—kali ini bukan sebagai polisi, melainkan pengacara nasional yang dikenal tanpa kompromi: Agus Flores, cucu kandung Andrias Ade.

Jika sang kakek menghadapi musuh negara dengan senjata, Agus Flores memilih jalur yang tak kalah brutal: hukum, media, dan tekanan publik. Gaya keras dan frontal membuatnya dijuluki sebagai “pengacara koboy”, sosok yang kerap berhadap-hadapan langsung dengan kekuasaan tanpa takut risiko.

Agus Flores dikenal sebagai Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW-FRN) dan figur counter Polri dalam banyak isu nasional. Ia bersuara lantang, bahkan saat berhadapan dengan institusi besar. Namun, menariknya, ia juga memiliki relasi dekat dengan jajaran Kapolri dan para jenderal Polri.

Kedekatan itu dinilai bukan kebetulan. Jejak sejarah, loyalitas merah putih, dan darah Timur yang mengalir kuat menjadi latar yang sulit diabaikan.

Nama Agus Flores bahkan disebut-sebut memiliki akses dan kedekatan dengan Presiden ke-7 RI, Ir. Joko Widodo. Dalam berbagai momentum nasional, ia tampil sebagai figur yang berada di lingkar isu strategis—hukum, kebebasan pers, dan relasi negara dengan rakyat.

Pengamat menyebut fenomena ini sebagai bukti bahwa darah perjuangan tidak hilang dimakan zaman. Ia hanya berpindah wujud. Dari komandan tembak di era rawan pemberontakan, menjadi pengacara keras kepala di era demokrasi yang penuh kepentingan.

Dari Timur, lahir karakter yang sama: tidak tunduk, tidak takut, dan tidak bisa dibungkam.

(Red)